Anak Laki Laki Anda Senang di Dapur ? Ini Manfaatnya

Kevin, teman sekelas anak saya, pintar sekali memasak. Dia tahu nama-nama bumbu dapur. Mama Kevin pun bercerita kalau bocah cilik 4 tahun itu senang kalau sudah di dapur. IKut-ikutan masak lalu dengan sangat antusias tanya ini, tanya itu. Kevin bahkan senang kalau diajak omanya kursus memasak, kebetulan sang oma mengisi waktu dengan mengikuti kursus itu. Hobi Kevin juga nonton saluran masak memasak. Sampai-sampai dia pernah mengajari mamanya bagaimana mengetahui telur yang bagus dan yang jelek. Satu yang menjadi masalah, Mama Kevin cemas apakah tak masalah jika anak laki-laki jatuh cinta pada kegiatan yang indentik dengan kegiatan perempuan ini.

PENGALAMAN MENYENANGKAN

Apakah Mama Papa memiliki kecemasan seperti Mama Kevin, mengkhawatirkan Si Buyung yang begitu tertarik dengan kegiatan masak memasak? Umumnya aktivitas memasak merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi anakanak, apalagi bagi mereka yang belum pernah mencoba di rumah karena banyak hal baru yang bisa dicoba saat memasak. Jadi, wajar bila si prasekolah tertarik dengan kegiatan ini, termasuk Si Buyung. Bila kecintaan pada memasak ini “keterusan” juga tak perlu dikhawatirkan. Bukankah mayoritas chef di dunia ini justru dari kaum pria? Pertanyaan selanjutnya kok bisa Si Buyung begitu senang memasak? Awalnya mungkin dari meniru Mama atau si mbak saat sibuk menyiapkan hidangan di dapur.

Kemudian ia tertarik untuk mencoba melakukannya sendiri mengupas wortel, memotong, mengaduk, mencetak adonan, dan sebagainya. Atau bisa juga, kesenangannya berawal dari kegiatan masak memasak di sekolah. Saat ini banyak TK yang menjadikan memasak sebagai salah satu pelajaran life skill. Bukan memasak yang rumit, namun sederhana, seperti membuat donat, pizza, sup, dan sebagainya. Sebelum memulai, para murid TK akan diperkenalkan dengan bahan, bumbu, dan peralatan masak yang dibutuhkan. Dari situlah lalu ada pembagian tugas. Ada yang mencuci sayuran, mengulek bumbu, dan sebagainya yang jelas semua kegiatan tidak menggunakan benda tajam. Setelah selesai memasak, sup yang telah selesai dimakan bersamasama. Jadi biarkan si kecil, tanpa melihat gender, kenal dengan kegiatan memasak. Sebab semua aspek tumbuh kembangnya dapat terstimulasi dengan kegiatan ini. Ini beberapa di antaranya”

* Aspek daya pikir.

Contoh, “Kakak pegangi mixer-nya yaaa. Kalau Mama bilang setop, Kakak tekan tombol 0. Kalau Mama bilang kencangkan, Kakak tekan tombol nomor 2.” Contoh lain, saat mencetak adonan kue. “Yuk, kita cetak kue bentuk bintang. Kakak nanti taruh di loyang ini, disusun berbaris, terus hitung ada berapa.” Instruksi-instruksi seperti ini akan merangsang daya pikirnya.

Lanjut ke bagian 2 ya bund…..

Oh ya simak juga rekomendasi situs parenting terbaik generasimaju.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *